Beranda > Novel > Menyesal

Menyesal

Seluruh tubuhku sudah enggan berteman dengan jiwaku. Paru-paru sudah enggan untuk memberi jiwaku udara,

jantung sudah malas-malas mengalirkan darah dan ototku sudah enggan kugerakkan.

Jiwaku tidak berdaya hanya bayangan-bayangan masa lalu yang selalu setia menemaniku. Tapi aku menolaknya dan berusaha mengenyahkan bayangan itu.

Tatapan kosongku menembus waktu hingga kejadian masa lalu terlihat dengan jelas. Kisah masa lalu yang membuatku malu, malu untuk menghadap langit, semua setan-setan seakan berpesta menyambut kedatangan dia tempatnya. Mereka telah membuat tempat yang special yang dipenuhi api dan siksaan. Aku tidak berdaya untuk itu. Tapi aku selalu berusaha untuk menjalani hidup dengan damai. Bila hidup ini sempurna maka aku tidak disini.

Masa lalu membuat diriku menjadi pengikut dan budak nafsu, Banyak darah yang kukucurkan dengan kesia-siaan. Aku adalah orang yang disia-siakan di dunia yang marah, tidak ada sapa dan senyum. Menapakkan kaki di setiap langkah, didepanku hanya musuh dan taring-taring tajam yang selalu menunggu dengan sabar untuk menerkamku di saat lemah. Aku tdak berdaya untuk melawan kesendirianku didunia ini.

Saat taring tajam ini berhasil menusuk jangtung, melemahkan seluruh semangat dan jiwaku hingga tidak berdaya. Kehidupanku bergantung pada selang-selang yang telah tertancap pada tubuh dan alat-alat yang tidak aku pahami. Bunyinya membuat nyaliku mencitu. Terbaring sendiri ditempat yang tidak aku harapkan dan sempit, membuatku bosan dan ingin berlari. Aku tak berdaya untuk itu hingga detik-detik begitu berharga disaat hembusan nafas semakin lemah. Dan pandanganku menjadi hitam dan gelap namun bayangan masa lalu semakin nyata membuatku sedih dan bisu.

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Tubuhku melayang bersama pikiran dan khayalanku dengan kepasrahan dan putus asa. Aku semakin jauh melayang dan saat kupalingkan wajahku aku lihat tubuhku diatas tempat tidur tak berdaya. Pandanganku merasa heran aku melihat bukan saja jasadku disana tapi aku lihat ada air mata. Ada air mata yang menunggu penuh harapan dan kesetiaan. Aku tidak tahu siapa dia, aku berusaha menggapai orang itu. “Siapakah dia, wanita yang meangis saat aku tak berdaya dan putus asa…?”

Kategori:Novel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: